26
09
2008
Bahagiakah pasangan yang menikah hanya karena cinta?Barangkali kisah ini bisa menjadi renungan bagi kita, utamanya yang ingin berumah tangga: Read the rest of this entry »
Comments : 4 Comments »
Categories : Jurnal Lepas
26
09
2008
oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
“Dan masalahnya adalah, jika kau tidak mengambil risiko apa pun, kau akan menanggung risiko yang lebih besar” (Erica Jong)
Mari kita awali bahasan kali ini dengan membaca satu skenario umum ini. Ada seorang cowok sedang gandrung pada seorang cewek. Selain parasnya manis, cewek itu jadi teman curhat yang menyenangkan. Si cowok ingin sekali nembak dan menjadikan cewek itu pacarnya.
Akan tetapi, ketakutan ditolak membuat dia selalu mengurungkan niatnya itu. Akhirnya, tanpa sepatah kata ‘cinta’ keluar dari mulut si cowok, cewek itu pun dilamar oleh orang lain. Dengan hati miris, dia pun menghadiri pernikahan sang cewek. Dia membayangkan betapa indahnya bisa hidup berdampingan dengan cewek pujaan hatinya. Akan tetapi, semua sudah terlambat.
Apakah skenario tersebut kedengaran masuk akal untuk Anda? Mungkin Anda bukanlah si cowok ini. Namun, dalam banyak aspek kehidupan, kita berperilaku mirip seperti si cowok tersebut. Bagaimana miripnya? Coba perhatikan. Read the rest of this entry »
Comments : No Comments »
Categories : Artikel Motivasi
25
09
2008
oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Salah satu kebiasaan buruk masyarakat kita adalah penyakit membanding-bandingkan. Coba perhatikan saat orang sedang bergosip ria. Anda pasti akan mendengarkan orang yang doyan membangga-banggakan dan membanding-bandingkan satu sama lain. Selain itu, beberapa acara di TV juga kentara sekali memamerkan dan membanding-bandingkan satu selebritas dengan selebritas lainnya.
Memang tidak selamanya buruk. Semangat membandingkan dengan orang lain, membuat kita sadar bahwa ada orang yang lebih baik dan lebih berhasil daripada kita. Namun, sikap membanding-bandingkan punya akibat yang buruk bagi perkembangan mental apabila tidak diimbangi dengan mentalitas yang konstruktif.
Pertama, sikap membanding-bandingkan membuat kita seperti ‘minum dari air laut’. Jadi tidak pernah ada puas-puasnya, malahan kita semakin kehausan hingga akhirnya kita kelelahan sendiri.
Saya mengenal seorang pria yang selalu berkompetisi dengan kakak dan adiknya. Padahal, secara finansial hidupnya sebenarnya pas-pasan. Namun, demi menjaga gengsi di mata orang tua ataupun adik-adiknya, dia terus berusaha mengimbangi bahkan melebihi adik dan kakaknya secara material. Akhirnya, semua itu membawa dirinya menjadi berutang yang cukup banyak. Read the rest of this entry »
Comments : No Comments »
Categories : Artikel Motivasi
25
09
2008
oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Istilah ‘transisi’ mulai populer setelah diperkenalkan oleh William Bridges dalam bukunya berjudul Transition. Persisnya, William Bridges mengatakan banyak orang terobsesi dengan perubahan. Namun, menurutnya, perubahan itu sendiri maknanya sangat dangkal. Bahkan, berubah secara fisik pun sudah dapat disebutkan sebagai perubahan.
Namun, kenapa disebut istilah transisi? Karena menurutnya, transisi mengandung makna lebih mendalam, yakni bukan hanya sekadar fisik, tetapi juga emosional dan mental.
Berikut adalah salah satu contoh perubahan yang gagal. Saya pernah melihatnya pada salah satu manajer asuransi yang bercerita bagaimana dia dulu pernah bekerja dengan sistem yang berbeda di tempat yang sebelumnya.
Menurutnya, sistem di tempat lamanya lebih baik dan karyawan juga lebih kompak. Setelah di tempat baru, dia merasa tidak kerasan. Akibatnya, meskipun sudah lama pindah ke perusahaan yang baru, ‘pikirannya’ masih tinggal di tempat yang lama. Read the rest of this entry »
Comments : No Comments »
Categories : Artikel Motivasi
25
09
2008
oleh : Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku
Dalam banyak kesempatan saya sering mengatakan kalau cerdas finansial akan membuat seseorang pintar sebagai pengutang (kas defisit) dan lihai sebagai investor (kas surplus). Selain itu, yang cerdas finansial tidak mudah tergoda atau salah persepsi terhadap produk kreatif bank seperti angsuran dengan bunga flat dan tawaran belanja berbunga 0%. Terakhir, para cerdas finansial juga tidak salah dalam memandang dan menggunakan kartu kredit.
Berikut tip dari saya agar Anda tidak salah persepsi terhadap produk bank. Read the rest of this entry »
Comments : No Comments »
Categories : Jurnal Lepas
24
09
2008
The successful man is the one who had the chance and took it. (Roger Babson)
Ada ungkapan bijak yang patut kita renungkan: “Orang gagal menyia-nyiakan kesempatan. Orang biasa umumnya menunggu kesempatan. Tapi, orang sukses menciptakan kesempatan.”
Ungkapan itu begitu dekat dengan realitas hidup yang kita jumpai. Saya mempunyai seorang kawan yang mempunyai rencana bisnis besar dan cemerlang. Akan tetapi, dia tidak segera mengeksekusi idenya alias sekadar menunggu.
Dia selalu berdalih bahwa dia membutuhkan waktu (timing) yang tepat sekaligus mendapat petunjuk ‘dari Atas’ yang tepat pula. Tapi, apa yang terjadi? Tahun berganti tahun, kini dia pun masih menunggu momen yang tepat itu tiba. Read the rest of this entry »
Comments : No Comments »
Categories : Artikel Motivasi
24
09
2008
Ini adalah tulisan yang sangat indah.
Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah
Jangan tergesa. Ini adalah harta karun
Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah
Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi
Bagi para ibu, kamu akan mencintainya Read the rest of this entry »
Comments : 1 Comment »
Categories : Uncategorized
23
09
2008
oleh : Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center
Apa pekerjaan yang Anda pilih seandainya bisa bekerja di Disneyland? Bayangkan apa saja. Mungkin Anda nakhoda Jungle Cruise, memunguti sampah, menjelajahi Rivers of America. Atau Anda menjadi salah satu “sahabat” Mickey Mouse, atau bahkan Presiden Disneyland Resort. Akan tetapi, apa pun kedudukan Anda, pada hari pertama bekerja Anda harus mengikuti orientasi kelas yang dikenal dengan “Disney Traditions”. Di sini Anda akan mempelajari misi perusahaan, dan tugas nomor satu Anda dinyatakan dalam tiga kata: We Create Happiness (Kami menciptakan kebahagiaan).
Dampak dari mission statement ini sungguh luar biasa. Siapa yang tak senang bekerja di sebuah perusahaan yang produknya adalah “menciptakan kebahagiaan”? Namun, bukan di situ intinya. Ketika nilai itu meresap ke dalam hati pegawai, yang muncul adalah pelayanan penuh tanggung jawab kepada setiap pelanggan.
Sebuah kisah nyata terjadi pada seorang pegawai berusia 18 tahun, yang tugasnya adalah menjual popcorn. Sepanjang hari, pekerjaannya adalah mem-bikin, membungkus dan menjual popcorn. Suatu hari dari dalam kereta popcorn-nya, di sela-sela melayani pengunjung, tatapan matanya menumbuk ke dua perempuan tua yang bergantian memotret di depan kastil. Read the rest of this entry »
Comments : 232 Comments »
Categories : Artikel Motivasi
23
09
2008
Ini ada sharing dari temen (sharing nyata, barusan terjadi),.. mungkin bisa jadi pembelajaran u/ kita semua…
Best Regards,..
Hi temen-2,
Gw mau sharing sesuatu yang terjadi sama keluarga gw hari ini. Seru banget tapi menakutkan!!!
I am sharing this for caution kalo kalian ke KBRI Singapore. Please hati-2, jangan sampai dokumen kalian dilihat oleh orang-2 di sekitarmu. Read the rest of this entry »
Comments : No Comments »
Categories : Jurnal Lepas
23
09
2008
oleh : Ary Ginanjar Agustian
Pendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center
Banyak eksekutif bisnis menganggap kultur korporat yang mereka pimpin adalah apa yang mereka inginkan. Mereka membuat lokakarya untuk mendefinisikan nilai-nilai dan proses-proses, menuliskan misi dan tujuan perusahaan di poster, menyediakan sesi-sesi orientasi untuk pegawai baru guna menjelaskan tujuan perusahaan dan lain-lain. Bahkan, ada yang mencetak pernyataan nilai-nilai perusahaan di balik kartu identitas sebagai pengingat bagi para pegawai.
Semua itu memang penting dilakukan. Namun, ada hal yang lebih penting, yang kerap dilupakan pemimpin bisnis. Kultur perusahaan sebetulnya didefinisikan oleh apa yang dilakukan para eksekutif. Pegawai meniru perilaku bos, karena boslah yang menilai, menggaji, dan mempromosikan mereka. Maka, para pemimpin tertinggi pada akhirnya bertanggung jawab atas kultur organisasinya, termasuk kultur etikanya.
Benar bahwa pegawai individual bertanggungjawab atas perbuatan mereka. Mereka digerakkan oleh seperangkat nilai-nilai atau prinsip-prinsip internal mereka sendiri. Namun, ketika urusan perut, kedudukan dan kekuasaan yang menjadi taruhan, orang akan melakukan apa saja untuk berhasil. Terlalu sedikit orang yang punya nyali mengambil risiko bagi diri dan keluarga demi prinsip, terutama jika konsekuensinya tampak kecil, samar dan, tak terdeteksi.
Di sinilah strategisnya peran pemimpin. Agar pegawai bertindak sesuai dengan prinsip, sebuah organisasi bisnis harus dipimpin eksekutif yang bersungguh-sungguh membuat keputusan tidak hanya menurut batasan-batasan bisnis dan legal, tapi juga batasan-batasan etis. Read the rest of this entry »
Comments : No Comments »
Categories : Artikel Motivasi
Suara Anda